ESTER
Ester atau
alkil alkanoat adalah senyawa turunan alkana dengan gugus fungsi -COO- dan
rumus umum CnH2nO2. Ester merupakan salah
satu senyawa yang istimewa karena dapat ditemukan baik di buah-buahan, lilin,
dan lemak. Ester juga memiliki bau yang harum sehingga banyak dimanfaatkan oleh
manusia dalam berbagai bidang. Ester diberi nama alkil alkanoat, dimana alkil
adalah gugus karbon yang terikat pada atom O (gugus R’) dan alkanoat adalah
gugus R-COO-.
Ester memiliki beberapa sifat, yaitu:
1. Sifat Fisis
- Lebih polar dari eter tapi kurang polar dibandingkan alkohol
- Semakin panjang rantainya, ester semakin tidak larut dalam air
- Dalam ikatan hidrogen, ester berperan sebagai akseptor hidrogen, tapi tidak dapat berperan sebagai donor hidrogen
- Lebih volatil dibandingkan asam karboksilat dengan berat molekuler yang sama
2. Sifat Kimia
- Dapat mengalami hidrolisis
- Dapat mengalami reaksi penyabunan
Reaksi-reaksi ester:
1. Hidrolisis
Ester terhidrolisis dalam suasana asam membentuk
alkohol dan asam karboksilat. Reaksi hidrolisis ini merupakan kebalikan dari
reaksi esterifikasi / pembentukan ester. Adapun reaksinya dapat ditulis
sebagai:
CH3-COO-C2H5 +
H2O → CH3COOH + C2H5OH
2. Saponifikasi / penyabunan
Ester, khususnya ester lemak dan minyak, dapat
bereaksi dengan basa kuat seperti NaOH atau KOH menghasilkan sabun. Reaksi ini
disebut saponifikasi atau penyabunan. Hasil samping reaksi ini adalah gliserol.
Berdasarkan jenis asam dan alkohol penyusun, ester
dapat dikelompokkan dalam 3 golongan, yaitu ester buah-buahan, lilin, serta
lemak dan minyak. Berikut adalah ketiga golongan tersebut:
- Ester buah-buahan
Ester dari asam karboksilat suku rendah dengan alkohol
suku rendah akan membentuk ester dengan 10 atau kurang atom C. Ester ini pada
suhu kamar akan berbentuk zat cair yang mudah menguap dan memiliki aroma khas
yang harum. Karena banyak ditemukan di buah-buahan atau bunga, ester jenis ini
disebut sebagai ester buah-buahan. Contohnya adalah:
Etil format beraroma rum
Isopentil asetat beraroma pisang
Etil butirat beraroma nanas
Metil salisilat beraroma sarsaparila
Propil asetat beraroma pir
n-Oktil asetat beraroma jeruk manis
Metil butirat beraroma apel
- Lilin
Lilin atau wax adalah ester dari asam
karboksilat berantai panjang dengan alkohol berantai panjang juga. Beberapa
jenis lilin tersebut contohnya:
Lilin lebah dari sarang lebah memiliki rumus C22,25H47,51COOC32,34H65,69
Spermacet dari rongga kepala ikan paus memiliki rumus
C15H31COOC16H33
Carnacauba dari daun palem Brazil memiliki rumus C25,27H51,55COOC30,32H61,65
Namun perlu diperhatikan bahwa lilin yang dimaksud di
sini bukan lilin yang sering dipakai ketika mati lampu, karena lilin tersebut
termasuk golongan hidrokarbon parafin bukan ester.
- Lemak dan minyak
Lemak merupakan ester dari gliserol dengan asam-asam
karboksilat suku tinggi. Lemak merupakan salah satu golongan ester yang paling
banyak terdapat di alam. Adapun contoh lemak adalah lemak sapi, sedangkan
contoh minyak adalah minyak jagung dan minyak kelapa. Yang membedakan lemak dan
minyak, Lemak pada suhu kamar memiliki bentuk padat sedangkan minyak berbentuk
cair, serta lemak bersumber dari hewan sedangkan minyak bersumber dari
tumbuhan.
ANHIDRIDA
Anhidrida asam asetat, (Nama IUPAC: etanoil etanoat) dan
disingkat sebagai Ac2O, adalah salah satu anhidrida asam paling sederhana. Rumus kimianya adalah (CH3CO)2O.
Senyawa ini merupakan reagen penting dalam sintesis organik. Senyawa ini tidak berwarna, dan berbau cuka karena reaksinya dengan kelembapan di udara membentuk asam asetat.
Rumus Anhidrida
Anhidrida asam karboksilat yang umum digunakan adalah asetat
anhidrida dan tersedia secara comersial.
Reaksi
Anhidrida Asam
1.
Hidrolisis
Hidrolisis
anhidrida asam dalam larutan asam atau basa menghasilkan 2 asam karboksilatnya.
2. Reaksi
dengan Alkohol
Reaksi
anhidrida asam dengan alkohol menghasilkan ester dan asam karboksilat.
3. Reaksi
dengan Ammonia
Anhidrida
bereaksi dengan ammonia (sangat cepat) menghasilkan suatu amida dan satu garam
karboksilat.
Permasalahan :
1.
Mengapa Ester semakin panjang rantainya
semakin tidak larut dalam air?
menurut saya ester semakin panjang rantainya semakin tidak larut dalam air, karena sifat fisik tergantung jumlah atom C nya, makin panjang rantai C nya maka makin mengarah ke solid (padat) dan juga tergantung pada ada atau tidaknya (n) ikatan rangkap. jika ada ikatan rangkap apalagi banyak, wujudnya biasanya cair, sedangkan jika semua ikatan C-Cnya tunggal biasanya padat.
BalasHapusmaka makin panjang rantai C, maka makin sukar larut dalam air pelarut polar
karena, jika rantai ester semakin panjang , sifatnya tidak larut dalam air soalnya bersifat nonpolar...
BalasHapuskarena, semakin panjang rantai ester semakin sulit bereaksi dalam air. Sebab, ester berwujud cair.
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus